Press Turtle Trip Paloh Bersama WWF

Rabu, 29 Juli 2009, pukul 20.15 malam, rombongan peserta Press trip Turtle berangkat dari kantor WWF Pontianak, perjalanan yang ditempuh sekitar delapan jam ini di ikuti 13 wartawan dalam rombongan relawan dari WWF untuk mengunjungi habitat penyu di Pantai Temajok, suatu tempat habitat penyu yang mulai terganggu oleh aktivitas manusia.

persiapan saat akan berangkat menuju pulau Temajok dari desa Setinggak (photo: Tri, pontianak, 2009)

Perjalanan dimulai dari kecamatan Camar Wulan di Pulau Temajok yang menjadi tempat pemukiman masyarakat, disana para wartawan sempat bermalam bersama relawan WWF, disana wartawan melakukan wawancara terhadap masyarakat sekitar dan juga mewawancarai sekretaris desa, warga desa berpendapat habitat penyu memang menurun bahkan di daerah sekitar pantai desa sangat jarang sekali ditemukan penyu lagi, hilangnya habitat penyu di sekitar pantai Desa Camar Wulan disebabkan masyarakat mengunakan jalan pantai untuk menuju kota karena tidak adanya akses jalan selain pantai dan jalur laut, memang tidak dapat dipungkiri adanya oknum-oknum tertentu yang sengaja untuk mencuri telur penyu.
Siang harinya tim wartawan dan WWF kemudian sempat ke Malaysia, menuju sebuah desa di kawasan Sematan, dengan nama Teluk Melano, yang terletak di perbatasan antara Pulau Temajok dan Malaysia, disana wartawan singgah di sebuah rumah penduduk yang rupanya masih keturunan warga Indonesia walaupun sekarang telah menjadi warga negara Malaysia, bahasa indonesia yang mereka gunakan masih baik, bahkan mereka menggunakan bahasa sambas.

para wartawan saat diperbatasan (photo: Tri, Teluk Melano, 2009)

Sore hari tim wartawan dan WWF meninggalkan desa Camar Wulan menuju pantai untuk bermalam disana melihat penyu-punyu yang bertelur. Sekitar pukul 21.45, Rombongan wartawan mengemasi persiapan untuk turun ke pantai meyelusuri jejak penyu. Relawan WWF menginformasikan bawah mereka melihat seekor penyu, para wartawan bergegas berangkat menuju lokasi yang berjarak 3 kilometer, tapi sayangnya penyu tidak jadi untuk bertelur mungkin karena aktifitas dan sinar disekitarnya membuatnya batal untuk bertelur, akhirnya kami menemukan seekor penyu yang sedang bertelur walaupun proses bertelurnya tidak sempat kami lihat.

persiapan saat akan berangkat (photo: Tri, pontianak, 2009)

Pukul 08.00 pagi tim wartawan dan WWF pulang kembali kekantor WWF di Paloh dengan mengunakan kapal nelayan, dalam perjalan pulang tim WWF mengajak untuk singgah di penangkarang atau penetasan telur penyu yang berada di pantai selimpai yang kelola oleh KSDA. Di sana terdapat empat bak semen untuk tempat tukik atau anak penyu yang baru menetas. Menurut Drh.Suprapti dari tim Monitoring WWF penanggakaran penyu yang dikelola oleh KSDA, tukik atau bayi penyu harus langsung dilepaskan kepantai, jangan terlalu lama berada di dalam bak penampungan, karena jika terlalu lama melakukan penyimpanan di dalam bak penampungan dapat menghilangkan naluri alami, untuk mereka bertahan hidup di alam, ujarnya.

anak penyu saat berada di penangkaran (photo: Tri, Selimpai, 2009)